Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Kebijakan Moneter: Konsep, Tujuan, dan Instrumen

Kebijakan moneter merupakan suatu kebijakan yang dimanfaatkan oleh suatu negara untuk menjaga stabilitas ekonominya. Kebijakan ini sering dijalankan dengan beriringan bersama kebijakan fiskal. Artikel ini akan memberikan gambaran mengenai pengertian kebijakan moneter, konsep, tujuan serta instrumennya.

Konsep Kebijakan Moneter

Pengertian kebijakan moneter adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan atau mengarahkan perekonomian makro menuju pada kondisi yang diinginkan (yang lebih baik) dengan mengatur jumlah uang beredar. Kondisi lebih baik berarti ketika output keseimbangan meningkat dan atau stabilitas harga terpelihara (inflasi terkontrol).

Pengertian kebijakan moneter menurut ahli lainnya adalah kebijakan otoritas moneter atau bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter dengan tujuan mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan (Warjiyo & Solikin, 2003 : 2).

Kebijakan moneter adalah bagian dari kebijakan bank sentral atau otoritas moneter yang dilakukan dalam bentuk pengendalian besaran moneter. Tujuan kebijakan moneter adalah mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan oleh negara, sekaligus menikmati stabilitas ekonomi.

Pemerintah mengambil kebijakan moneter untuk mempertahankan, menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar di pasaran, sehingga dapat mempertahankan kemampuan ekonomi agar tetap bertumbuh, sekaligus untuk mengendalikan inflasi.

Kebijakan moneter dapat dibagi dalam bentuk kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive) adalah saat pemerintah menambah jumlah uang beredar, sebaliknya kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive) adalah ketika pemerintah mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter kontraktif juga disebut dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).

Suatu negara, pasti menginginkan agar kegiatan perekonomian dapat mencapai stabilitas ekonomi makro. Hal ini bisa dicerminkan melalui stabilitas harga (rendahnya laju inflasi), membaiknya perkembangan output riil (pertumbuhan ekonomi), dan cukup luasnya lapangan/ kesempatan kerja yang tersedia (Warjiyo & Solikin, 2003 : 2).

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan pertimbangan siklus kegiatan ekonomi, sifat perekonomian suatu negara tertutup atau terbuka, serta terkait faktor-faktor fundamental ekonomi yang lain.

Tiap-tiap negara memiliki kebijakan moneter yang dapat berbeda, dengan disesuaikan pada tujuan serta mekanisme transmisi yang berlaku pada perekonomian di negara tersebut.

Tujuan Kebijakan Moneter

Pemerintah Indonesia selalu berusaha mencapai tujuan kepentingan nasional, terutama dalam ranah ekonomi. Salah satunya dilakukan dengan menjalankan kebijakan moneter. Sesuai undang-undang berupa UU No.3 Tahun 2004, menempatkan Bank Indonesia sebagai pengambil kebijakan moneter.

Tujuan kebijakan moneter di Indonesia ini adalah untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah adalah kestabilan yang berlangsung pada harga barang dan jasa yang dapat tercermin dari laju inflasi yang rendah dan stabil serta kestabilan harga yang tercermin pada kestabilan nilai tukar Rupiah dengan mata uang negara-negara lain atau mitra dagang Indonesia.

Tujuan kebijakan moneter, juga bisa dilihat sebagai berikut :

  1. Stabilitas harga
  2. Pertumbuhan ekonomi
  3. Perluasan kesempatan kerja (high employment)
  4. Keseimbangan neraca pembayaran
  5. Stabilitas financial markets
  6. Stabilitas pasar valuta asing

Demi mencapai tujuan kebijakan moneter, pemerintah menetapkan adanya tiga tugas pokok Bank Indonesia, berupa :

  1. menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter,
  2. mengatur dan menjaga sistem perbankan,
  3. mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.

Kebijakan moneter memang berkaitan erat dengan sistem keuangan suatu negara. Oleh karena itu, kebijakan moeneter biasa dipegang oleh bank sentral, seperti Bank Indonesia 

Instrumen Kebijakan Moneter

Pengambilan kebijakan moneter dapat dilakukan dengan mempertimbangkan instrumen berupa jumlah uang yang beredar dan suku bunga. Instrumen tersebut juga dapat dijabarkan lagi dalam tiga instrumen utama yang digunakan dalam rangka mengatur jumlah uang beredar. Ketiga instrumen kebijakan moneter sebagai berikut:

  1. operasi pasar terbuka (open market operation),
  2. fasilitas diskonto (discount rate),
  3. rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio).

Ketiga instrumen tersebut merupakan kebijakan moneter bersifat kuantitatif. Instrumen kebijakan moneter di luar kebijakan bersifat kuantitatif tersebut yang dapat dilakukan dengan jalan melakukan imbauan moral (moral persuasion).

Tolok Ukur Stabilitas Moneter

Penting kiranya untuk bisa menilai sukses tidaknya suatu kebijakan. Untuk menilai kebijakan moneter, ada beberapa indikator yang bisa digunakan, sepertii :

  1. Jumlah Uang Beredar (JUB)
  2. Laju inflasi yang cukup rendah terkendali
  3. Suku bunga pada tingkat yang wajar
  4. Nilai tukar rupiah yang realistis,
  5. Ekspektasi atau harapan masyarakat terhadap kondisi moneter


Referensi :

  • Goldfeld, Stephen M dan Lester V. Chandler. 1986. The Economics Of Money And Banking Ninth Edition. California: Harper & Row Publisher Inc.
  • Indrawati, Sri Mulyani. 2005. Teori Moneter. Universitas Indonesia Press. Jakarta
  • Pracoyo, Tri Kunawangsih dan Antyo Pracoyo. 2006. Aspek Dasar Ekonomi Mikro. Jakarta : PT Grasindo.
  • Rahayu, Ani Sri. 2014. Pengantar Kebijakan Fiskal. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Warjiyo, Perry dan Solikin. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. Jakarta: Pusat Pendidikan Dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BANK INDONESIA