Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Risiko Bisnis dan Jenis Jenisnya

Bisnis seringkali menawarkan keuntungan yang menggiurkan. Di saat bersamaan, bisnis juga menawarkan risiko. Risiko dalam kegiatan bisnis adalah hal yang tidak bisa dihindari. Umumnya, semakin tinggi potensi keuntungan dalam bisnis, semakin tinggu pula risiko yang mungkin dihadapi.

Oleh karena itu, ketika kita berbisnis, sudah sepatutnya kita memahami apa saja jenis-jenis risiko dalam bisnis, sekaligus memahami apa pengertian risiko bisnis. 

risiko bisnis

Definisi Risiko

Definisi risiko secara umum adalah kondisi ketidakpastian pada masa yang akan datang. Secara lebih spesifik, pengertian risiko adalah adanya konsekuensi yang muncul sebagai dampak dari ketidakpastian, sehingga memunculkan dampak yang merugikan bagi pelaku usaha.

Artinya, potensi risiko adalah potensi yang merugikan. Pada kondisi lain, konsekuensi yang dianggap menguntungkan, bukan berarti risiko. Konsekuensi pada bisnis secara umum dibagi dua, yakni konsekuensi positif dan konsekuensi negatif. Risiko merupakan bagian dari konsekuensi negatif. Adapun konsekuensi positif disebut sebagai keuntungan. Keuntungan inilah yang diharapkan diperoleh dalam bisnis.

Risiko secara umum akan selalu ada dalam kehidupan sehari -hari. Hanya saja, intensitas atau potensi munculnya riisko akan meningkat dalam kegiatan bisnis. Potensi risiko berbanding lurus dengan potensi keuntungan. Kondisi seperti ini dikenal sebagai high risk high return.

Motivasi Mengambil Risiko

Meskipun risiko merupakan dampak merugikan bagi perusahaan, tapi dalam bisnis, risiko harus tetap dihadapi. Ada beberapa alasan seseorang mau mengambil risiko, yang disebut sebagai motivasi. Motivasi mengambil risiko bisa didasari keinginan mendapat tingkat keuntungan atau pengembalian yang sepadan dengan pengorbanan yang dikeluarkannya terlebih dahulu.

Seorang pengusaha yang melakukan kegiatan berisiko umumnya memiliki motivasi mendapatkan keuntungan yang semakin tinggi. Namun, ia akan berusaha juga mengalkulasi besarnya risiko yang dihadapi. Berdasarkan pada kalkulasi yang dibuat, ia akan menetapkan target keuntungan yang diinginkan.

Sebagai contoh, seorang yang menargetkan nilai investasi tertentu dalam sejumlah uang dimilikinya. Ia dihadapkan di antara banyak pilihan. Pilihan pertama adalah menabungnya dalam bentuk deposito di bank dengan mendapatkan bunga sebesar 5 % tiap tahun secara pasti. Risiko pada deposito terbilang minim.

Pilihan kedua, ia menginvestasikannya untuk bisnis kuliner dengan potensi keuntungan hingga 300% per tahun. Tetapi, di pilihan kedua juga terdapat risiko ketidakpastian hasil keuntungan yang lebih tinggi, termasuk kerugian modal. Namun, seorang pebisnis umumnya lebih memilih menjalankan bisnis kuliner demi potensi keuntungan yang besar.

Selain itu, alasan seorang mau mengambil risiko juga karena faktor kepepet atau keterpaksaan. Dalam hal ini, seseorang mungkin mengambil risiko karena kondisi yang menyertainya sudah sangat mendesak sehingga mau tak mau harus menghadapi riisko.

Kondisi yang mendesak membuat seseorang jadi tidak terlalu menghiraukan risiko yang harus dihadapi. Kalau pun ia memahami risiko yang dihadapi, ia juga tidak memiliki cukup waktu untuk mengalkulasi besarnya risiko -risiko yang dihadapi tersebut.

Jenis Jenis Risiko dalam Bisnis

Seseorang yang hendak memulai bisnis sangat perlu untuk mengenal beberapa risiko yang mungkin dijumpai dalam bisnis, khususnya bagi start up business. Berikut adalah jenis jenis risiko dalam bisnis:

1. Risiko Murni

Risiko murni dalam bisnis adalah risiko yang muncul karena suatu situasi atau keputusan yang konsekuensinya adalah kerugian saja. Bentuk risiko murni ini ada beberapa yang sering muncul, seperti :

  • Risiko hilang / rusaknya aset yang dimiliki sebagai akibat dari kebakaran, penggelapan, pencurian dan lainnya.
  • Kecelakaan kerja pada proses produksi.
  • Risiko akibat tuntutan hukum dari pihak lain, seperti karena keracunan dari makanan yang dijual, tuntutan konsumen karena kelalaian yang dilakukan dan sebagainya.
  • Risiko operasional lainnya.
  • Bencana alam atau force majeure, seperti misalnya gempa, banjir, angin topan dan sejenisnya.

2. Risiko Spekulatif

Risiko spekulatif adalah risiko yang muncul sebagai akibat dari situasi atau keputusan yang konsekuensinya bisa berupa kerugian maupun keuntungan. Contoh risiko spekulatif yang mungkin, misalnya :

2.1 Risiko perubahan harga

Harga pasar suatu produk, jasa atau komoditi dapat berubah -ubah, bisa naik bias juga turun. Ini disebabkan oleh perubahan harga input. Ketika harga input naik, maka perusahaan dapat mengalami kerugian karena adanya penurunan margin keuntungan.

Sebaliknya, bila harga input turun, maka perusahaan justru akan mengalami keuntungan. Ini disebabkan karena adanya kenaikan marjin keuntungan.

Selain itu, jika dikaitkan dengan harga output, maka perusahaan akan mengalami keuntungan ketika harga output naik karena marjin keuntungan yang juga meningkat. Sementara apabila harga output turun, maka perusahaan akan mengalami kerugian, karena adanya penurunan margin keuntungan.

2.2 Risiko kredit

Risiko kredit ini adalah risiko yang muncul akibat adanya transaksi kredit, seperti hutang dagang. Apabila pihak yang diberikan kredit mengalami gagal bayar. Jika hal ini terjadi, maka pengusaha akan mengalami kerugian.

Meski kita tidak akan terlepas dari adanya risiko. Namun, bukan berarti bahwa kita harus menghindari kegiatan bisnis tersebut dan sama sekali melepaskan risiko yang ada. Sebab, Anda dapat melakukan pengelolaan risiko untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya risiko yang ada.

Referensi :

Harrington, Scott E dan Gregory R Niehaus. 2004. Risk Management and Insurance. 2nd Ed. New York: McGraw Hill.