Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Pengangguran dan Jenis Jenisnya

Pengangguran adalah salah satu masalah yang masih belum terselesaikan di Indonesia. Pemerintah masih perlu bekerja keras untuk terus meminimalisir angka pengangguran dari tahun ke tahun. Dengan rendahnya angka pengangguran, diharapkan seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati kesejahteraan hidup.

Pengertian Pengangguran dan Jenis Jenisnya

Pengertian Pengangguran

Pengertian pengangguran adalah jumlah angkatan kerja yang tidak dapat terserap dalam dunia kerja atau tidak bekerja. Jadi, angkatan kerja atau orang-orang yang memiliki kapabilitas untuk bekerja ini tidak memiliki pekerjaan sehingga menumpuk jumlah pengangguran. 

Pengangguran sering dianggap sebagai masalah besar yang perlu diselesaikan bersama. Pengangguran sendiri ada banyak jenisnya dengan karakteristik tersendiri. Berikut kita bisa memahami jenis jenis pengangguran dilihat dari berbagai aspek.

Jenis pengangguran menurut jumlah jam kerja

Jenis pengangguran menurut jumlah jam kerjanya, dibedakan ke dalam dua jenis, yakni pengangguran terbuka dan setengah menganggur. 

1. Pengangguran Terbuka (open unemployment)

Pengangguran terbuka adalah bagian angkatan kerja yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan, baik bagi orang yang memang belum  pernah bekerja sama sekali mapun bagi orang yang sudah pernah bekerja, orang yang sedang mempersiapkan suatu usaha, orang yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan orang yang sudah mempunyai pekerjaan tapi belum mulai melakukan pekerjaannya tersebut.

Pengangguran terbuka ini meliputi mereka yang aktivitas hariannya memang masih belum atau memang tidak melakukan pekerjaan, karena alasan apa pun.

2. Setengah Menganggur (under employment)

Setengah menganggur adalah jenis pengangguran dilihat berdasarkan jam kerja yang meliputi orang-orang atau tenaga kerja yang bekerja di bawah jam kerja normal. Dalam hal ini, mereka sudah bekerja tapi tidak optimal. Ketidakoptimalan bekerja dilihat berdasarkan lama bekerja yang kurang dari 35 jam seminggu.

International Labour Organization (ILO) atau Organisasi Tenaga Kerja Internasional, menjelaskan bahwa under employment adalah perbedaan jumlah pekerja yang secara nyata dikerjakan seseorang dalam pekerjaannya degnan jumlah pekerjaan yang secara normal mampu dan ingin dikerjakan.

Setengah menganggur dapat dikelompokkan dalam 3 jenis, yakni setengah mengaggur terpaksa, setengah menganggur sukarela, dan pengangguran terselubung atau tersembunyi. 

2.a. Setengah Menganggur Terpaksa (Involuntary Under Employment)

Setengah menganggur terpaksa meliputi orang yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu dan masih berusaha mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan lainnya, karena upah yang diterima dari pekerjaan yang sudah dilakukannya tersebut tidak sesuai dengan harapan pencari kerja.

Contoh setengah menganggur terpaksa adalah seorang yang bekerja sebagai penjaga warnet. Ia setiap hari bekerja selama empat jam, tetapi memiliki gaji yang masih rendah sehingga ingin memanfaatkan sisa waktunya untuk mendapatkan pekerjaan lain. Selain itu, juga pekerja bangunan yang bekerjanya tidak setiap hari.

2.b. Setengah Menganggur Sukarela (Voluntary under employment)

Setengah mengaggur sukarela termasuk orang yang bekerja di bawah jam kerja normal atau 35 jam seminggu, tapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain.

Contoh setengah menganggur sukarela adalah seorang tenaga ahli yang bekerja hanya saat-saat tertentu saja, tapi gaji yang diperoleh sudah sangat besar. Contoh lain, orang yang menyewakan rumah atau tempat usaha sehingga memperoleh penghasilan, Jadi, ia tidak perlu bekerja hingga 35 jam seminggu, tapi sudah memiliki penghasilan cukup.

2.c. Pengangguran Terselubung atau tersembunyi (Disguished Unemployment)

Pengangguran terselubung adalah tenaga kerja yang bekerja tidak optimal karena lembaga atau perusahaan tempat bekerja kelebihan tenaga kerja. Contoh pengangguran terselubung adalah pada perusahaan pembuatan kerupuk, dengan sepuluh orang tenaga kerja. Namun, dalam proses produksi kerupuk sebetulnya sudah cukup dengan tujuh orang saja. Ini membuat tiga orang tenaga kerja lain termasuk pengangguran terselubung.

Jenis Pengangguran Menurut Penyebab Terjadinya Pengangguran

Jenis pengangguran dilihat dari penyebab terjadinya pengangguran, dibedakan dalam lima jenis, yakni pengangguran konjungtur/ siklikal, pengangguran struktural, pengangguran friksional, pengangguran musiman, dan pengangguran teknologi. 

1. Pengangguran konjungtur/ siklikal (Cyclical Unemployment)

Pengangguran konjungtur atau siklikal ada pengangguran yang disebabkan oleh gelombang konjungtur atau perubahan naik turunnya kondisi perekonomian. Misal kondisi ekonomi mengalami kelesuan atau kemunduran, maka permintaan barang dan jasa masyarakat akan menurun. Hal ini membuat jumlah produksi dikurangi. Alhasil muncul tenaga kerja yang tidak terpakai. Tenaga kerja tidak terpakai di masa-masa ini termasuk dalam jenis pengangguran siklikal.

Contoh, Indonesia dan dunia global mengalami krisis keuangan tahun 2008 silam. Kondisi ini menyebabkan perusahaan banyak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terutama pada industri garmen dalam negeri. PHK dilakukan akibat permintaan produk pakaian jadi (garmen) dari luar negeri menurun akibat kondisi ekonomi yang buruk. Tenaga kerja yang terkena PHK ini disebut sebagai pengangguran siklikal.

2. Pengangguran struktural (structural unemployment)

Pengangguran struktural adalah pengangguran yang muncul karena perubahan struktur dan corak kegiatan ekonomi sebagai akibat perkembangan ekonomi. Contoh, saat negara mengalami perubahan struktur ekonomi dari sektor agraris ke sektor industri.

Kondisi ini mengakibatkan pergantian teknologi dari tenaga manusia ke tenaga mesin. Semisal dalam memanen padi, di jaman dulu dibutuhkan banyak tenaga manusia agar bisa merontokkan padi. Tapi, karena banyak mesin perontok padi yang bisa dimanfaatkan, maka kebutuhan tenaga manusia pun berkurang.

Selain itu, berbagai pendirian industri padat modal lain yang memanfaatkan tenaga mesin juga mulai menggantikan peran tenaga manusia dalam proses produksi.

3. Pengangguran friksional (frictional unemployment)

Pengangguran friksional disebut juga pengangguran transisional atau peralihan. Jenis pengangguran ini muncul dikarenakan perpindahan tenaga kerja dari satu sektor ke sektor yang lain atau dari satu peekerjaan ke perkajaan lain.

Pengangguran ini biasanya bersifat sementara, karena disebabkan oleh kesenjangan waktu, letak geografis dan informasi lowongan kerja. Pengangguran friksional ini juga bisa disebabkan karena adanya keinginan dari pencari kerja untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, lebih menantang, atau lebih menunjang karir masa depannya.

4. Pengangguran musiman (seasonal unemployment)

Pengangguran musiman biasa berlangsung secara berkala dipengaruhi musim. Pengaruh musiman ini biasanya terjadi di sekotor pertanian. Dalam sektor pertanian, terdapat masa tunggu antara musim tanam dan musim panen sehingga masa -masa menunggu membuat para petani mengaggur.

Pengangguran musiman juga dapat terjadi pada para pekerja di sektor bangunan atau properti. Permintaan proyek -proyek pembangunan gedung dan rumah tidak selalu ada. Jadi, mereka hanya bekerja ketika ada kebutuhan proyek. Selesai proyek, harus menganggur lagi hingga ada proyek baru lagi. 

5. Pengangguran teknologi (technological unemployment)

Pengangguran teknologi disebabkan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi membuat perusahaan -perusahaan menciptkan aneka teknologi modern dan canggih besar -besaran. Kondisi ini membuat kapasitas produksi perusahaan semakin meningkat hanya dengan pemanfaatan teknologi. 

Ini justru membuat tenaga kerja manusia banyak yang tidak terpakai sehingga menciptakan pengangguran teknologi.

Sumber :

Aryanti, Harnida Gigih dkk. 2014. Ekonomi : Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Klaten : Intan Pariwara.